Jakarta : Hedopack-isme, Fastpack 250 dan sennheiser PX200
Sekitar bulan Juli yang lalu, aku ke jakarta dengan niat ke rumah sodara sekalian jalan-jalan buat hunting foto dan juga mau beli barang dengan tabungan sendiri, tema yang dipake kombinasi antara hedon dan backpacker, agak aneh juga kalo dikombinasikan sih. Selama dirumah sodara emang jadi agak hedon, jalan-jalannya ke mall doang. begitu pindah tempat nginep di kaperda DIY di daerah menteng, berubah deh temanya jadi backpacker. Kemana-mana naik busway ataupun bajaj dan transportasi lainnya. Tapi justru dengan mengalami kedua siklus hidup itu, aku bisa ngambil sisi positifnya dalam berkehidupan, yang mana setiap individu itu harus seimbang antara menikmati hidup yang berkecukupan dengan bersosialisasi serta menyadari kehidupan lain yang ada di sekitarnya. Saran sih, selama di jakarta itu enakan naik busway, karena kalian bisa menikmati momen, itu kalo kalian sebagai orang yang hobi foto dengan fokus human interest. Apalagi kalo setelah turun dari shelter trus jalan kaki ke tempat tujuan yang mungkin engga terjangkau busway, disitu bisa jadi bakal nemuin fenomena sosial yang kita engga sadar itu kalo dipotret bisa jadi keren. Mungkin capek sih ya, tapi bikin badan sehat karena banyak keringetan gara-gara panas menyengat, ya walaupun efeknya bakalan jadi sedikit item. Spot-spot saat berhedon itu a.l. Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Senayan City, Plaza Senayan, Gandaria City, dll.
By the way, sewaktu di jakarta itu udah ada rencana mau beli tas kamera, dan jadilah jalan-jalan ke Mangga Dua. Disana muter seharian buat nyari tas yang spesifikasinya yang penting muat kamera (pastinya lah), laptop, sekaligus satu kompartemen lain buat naroh baju atau apapun itu, muter di mangga dua itu cukup capek, dan yang engga disangka itu variansi harga satu jenis barang di toko yang berbeda itu sampe 300 ribuan, gila bener deh. dan setelah seharian muter disana buat survey harga yang termurah, akhirnya dapet deh Lowepro Fastpack 250 seharga 800 ribu rupiah. Tas itu ukurannya cukup besar, tapi muatnya lumayan komplit, makanya aku pilih tas itu. Setelah dapet tas trus pulang deh, dimana waktu itu udah jam setengah 5 sore, jadi harus cepet pulang biar dapet busway. Anyway, setelah sampe shelter busway jurusan arah harmoni, antrinya naudzubileh ! kata petugas, antrian banyak sih karena bisnya cuma dikit banget. Ya setelah berdesak-desakan, akhirnya sampe juga di menteng sekitar jam 7an. Anyway, esok harinya harus balik lagi ke mangga dua, karena dengan bego nya bisa kelupaan sesuatu yang mau dibeli, yaitu headset, waktu itu bener-bener bego banget, soalnya kan jarak menteng-mangga dua kan lumayan tuh, lumayan gempor. Sebenernya sih aku udah punya sennheiser PX-100 seri pertama, tapi ada temen yg menawar headset itu sama dengan harga beli karena dia udah fall in love sama tuh headset. Jadinya yaudah deh, toh juga ada kepengenan ganti headset, sekalian nyenengin temen juga. Setelah sampe di mangga dua (lagi), kali ini tugas lebih gampang soalnya kalo urusan headset aku udah tau lokasi toko bandarnya se-Jakarta. HAHAHA. Dan, akhirnya didapat deh barang yang dipengenin, yaitu Sennheiser PX-200 versi kedua dengan harga yang sama dengan tas kamera tadi, 800 ribu rupiah. Dua barang itu emang mahal sih, tapi kan nilai guna mereka cukup lama buatku, terutama kalo lagi backpacking gitu, ya “beli mahal tapi cukup sekali”. Jadi menurutku mereka benar-benar berharga banget. Singkat cerita begitu balik ke menteng langsung bergegas pulang menuju cengkareng deh. Terbang jam 15.30.
Off to Jogja, see you soon Jekardah
UM UGM, UM UNDIP & SNMPTN 2010
Temen-temen angkatan 2011, ini beberapa soal dari ujian masuk yang pernah saya ikuti tahun lalu, silahkan dipilih mau download yang mana
Soal Ujian Mandiri UNDIP sosial 2010
Good Luck Teman-teman 2011 ! Semoga soal-soal ini bisa membantu kalian untuk menuju universitas yang kalian inginkan
Kring-kring #Gowes
Rabu, 30 Maret 2011
Pada hari itu saya dan teman-teman sekelas Management berjanji kepada dosen pengampu Mr. Sahid Nugroho untuk berangkat ke kampus dengan menggenjot sepeda atau yang populer dengan nama gowes serta berpakaian batik.
Selesai sesi kelas pada pukul 4 sore, kita semua langsung menuju tempat parkir sepeda dan langsung berbaris membentuk rangkaian konvoi sepeda. Kita berkumpul di parkiran mobil sebelah timur Grha Sabha Pramana untuk kemudian menuju ke rumah makan terdekat di sekitar kompleks kampus UGM. Kita beriringan keluar kompleks UGM melalui boulevard, dan kemudian berhenti sebentar untuk mengabadikan momen ini. Kita semua berfoto bersama di depan bundaran UGM
Setelah berfoto, kita lanjut gowes hingga akhirnya sampai di salah satu rumah makan di sekitar kampus. By the way, acara makan-makan ini ditraktir oleh Mr. Sahid Nugroho dalam rangka perayaan beliau setelah terpilih jadi Ketua Jurusan Management yang baru.
Congrats Mr. Sahid Nugroho !
Berlin #TTATW
Berlin
your single side won’t be denied
your melodramatic instant sign
is beyond my reach 2x
missing you is just too much
why don’t you just figure it out ?
you’re fading
and i’m still waiting 3x
those words that you wrote on the postcard
is as cold as the winter chill
seems to me it’s not a priority
it’s just another little sign
that you’re fading
and i’m still waiting 5x
you’ll fade away
Welcoming Party IKAMMA FEB UGM
Hello folks ! Today I’m gonna share a piece of my experience. Sebagai anggota baru Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen FEB UGM, sudah menjadi tradisi untuk mengadakan sebuah acara penyambutan kecil-kecilan. Kita sebagai pengurus baru memutuskan untuk mengadakan ‘welcoming party’ pada tanggal 25 maret 2011 di rumah Astrid, salah seorang pengurus baru, di daerah Pakualaman.
Sayangnya, ketika acara sedang berlangsung, turun hujan dan listrik malah mati, benar-benar sesuatu yang tidak direncanakan. Tetapi, meskipun banyak kendala kami tetap menjalankan rencana seperti semula dan alhamdulilah acara berjalan cukup sukses tanpa hambatan berarti lainnya lagi. Thanks to teman-teman pengurus baru yang tetap semangat !
Ini dia sedikit foto dokumentasinya
This slideshow requires JavaScript.
Merapi snapshot
Peran operator telekomunikasi dalam memajukan daerah terpencil
Di era transisi menuju globalisasi saat ini, telekomunikasi adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan masyarakat. Tanpa telekomunikasi, masyarakat seakan terisolir dalam pergaulan non-visualnya dan hanya terlibat dalam pergaulan di daerah tertentu saja. Disinilah letak pentingnya operator telekomunikasi untuk mengenalkan sarana komunikasi kepada masyarakat terpencil secara arif dan bijak. Upaya-upaya pengadaan jaringan sinyal telekomunikasi di semua daerah terpencil di Indonesia sangatlah vital, untuk itu diperlukan adanya integrasi antara pemerintah di setiap daerah dengan operator telekomunikasi sebagai mitra pembangunan.
Penyediaan jasa telekomunikasi di daerah terpencil juga berdampak positif di bidang perekonomian daerah, karena dapat mempercepat penyebaran informasi suatu barang dan pihak peminat dapat mengetahui komoditas yang dikehendakinya tersebut, sehingga tercipta iklim perdagangan tradisional khas yang mampu mengangkat kinerja perekonomian suatu wilayah terpencil, atau bahkan seseorang dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan orang lain menggunakan jaringan telekomunikasi tersebut. Hal ini dimungkinkan untuk terciptanya perdagangan komoditas antar wilayah yang signifikan dan juga berkembang menjadi perdagangan daerah ke negara lain yang dapat menambah devisa negara Indonesia .
Peranan operator sendiri di daerah terpencil dapat menjadi sebagai pengayom, atau menjadikan penduduk di daerah terpencil yang memanfaatkan jasa telekomunikasi untuk berkembang sebagai binaannya dalam mengembangkan perekonomian di daerah tersebut yang merupakan keseimbangan antara brand business expanding dengan corporate social responsibility setiap perusahaan penyedia jasa telekomunikasi. Selain itu juga sebagai perintis majunya perekenomian daerah tersebut sendiri, karena selama ini investor yang berminat di daerah terpencil terkendala oleh ketidak tersediaannya pelayanan telekomunikasi di daerah itu, sehingga apabila operator merintis pembangunan jaringan telekomunikasi, dapat memberi ruang kepada para investor untuk masuk ke daerah tersebut. Sehingga tercipta kondisi yang saling menguntungkan antara penduduk yang mendapat lapangan pekerjaan, operator telekomunikasi mendapaat pelanggan baru, dan investor mendapatkan hasil dari investasinya.
Dalam bidang pendidikan, operator memiliki peranan sebagai fasilitator. Melalui jasa pelayanan GPRSnya, dapat memfasilitasi para pelajar di daerah terpencil untuk membuka wawasan tentang dunia, mereka dapat memanfaatkan jasa internet GPRS untuk mengetahui informasi terbaru maupun ber-interaksi sosial melalui situs jejaring sosial secara bertanggung jawab. Sehingga, dalam pengembangannya ke depan, operator-operator jasa telekomunikasi dituntut untuk mampu memberi pelayanan yang terbaik dan menembus ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Dan ini adalah tantangan terbesar yang harus dihadapi untuk dapat memberikan layanan telekomunikasi terbaik bagi pelanggan di seluruh pelosok Indonesia.





